Gagalnya Transfer Nilai Patriotisme di Indonesia
Bila Urban Yang Berhasil Menutup Mata Pembangunan Desanya
Bulan Agustus tahun ini seluruh rakyat Indonesia memperingati ulang tahun kemerdekan yang ke 62 tahun. Usia yang relatif sangat muda bila dibanding dengan lamanya nenek moyang kita dininabobokan penjajahan bangsa lain. Guru sejarah kita di SD menjelaskan bahwa penjajah pintar untuk mengadu domba bangsa Indonesia. Tiga ratus tahun lebih dibawah tekanan dan penjajahan asing menjadikan penindasan harga diri bukan merupakan siksaan namun sudah menjadi bagian dari culture yang tidak tahu kapan berakhir.. Hanya kehendak Allah dan sisa-sisa semangat patriotisme anak bangsa di tahun 1945 Indonesia terlepas dari warisan enam generasi pendahulunya.
Runtuhnya Patriotisme
Kemerdekaan telah berhasil direbut bangsa Indonesia namun apakah akibat psikologi yang ditimbulkan penjajahan telah lenyap dari kehidupan masyarakat Indonesia. Jawabnya ada di dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari. Maraknya pemburu status PNS menunjukan predikat amtenar adalah status yang sangat terhormat dibanding jadi saudagar apalagi babu dan kuli bangunan -meski sekarang banyak babu yang go internasional dengan gaji lebih besar dibanding gaji seorang korpri- yang dipandang sebagai masyarakat nomer dua di dalam paranata sosial kehidupan bermasyarakat.
Makin bertambah usia kemerdekaan tidak menjamin nilai patriotisme yang dikumandangkan Bung Tomo, Bung Karno dan para pahlawan kita merasuk dan mengambil alih nilai sekuler dan feodalisme yang bersembunyi di alam bawah sadar masyarakat Nusantara.
Berkembangnya teknologi informasi yang berdampak pada pemahaman dunia tanpa sekat memberi pengaruh pada masuknya kebudayaan asing dan mengerogoti nilai-nilai timur yang diugemi oleh leluhur bangsa Indonesia sebagai acuan untuk bermasyarakat dan bernegara.
Falsafah Jawa menyebutkan bahwa seluruh komponen masyarakat dalam menjalankan keseimbangan hidup harus mampu ‘mikul dhuwur menden jero dalam rangka memayuhayuning bawono’ yang artinya mampu untuk menjaga segala sesuatu yang bersifat tidak baik dan mengedepankan segala sesuatu yang memberi manfaat demi menjaga keseimbangan dunia.
Sikap Sebagai Bangsa Timur
Indonesia bukan Negara Inggris, Indonesia bukan pula Amerika yang telah hidup makmur berratus tahun dan memiliki ‘kedewasaan’ berpolitik. Indonesia adalah sekelompok masyarakat yang menghuni berratus kepulauan dan memiliki berbagai budaya yang disatukan oleh pendahulu Negara melalui gotong royong, perjuangan dan pengorbanan. Indonesia bukan berdiri dan diakui masyarakat dunia karena satu dua gelintir manusia namun karena peran jutaan nafas manusia yang memilki jiwa patriotisme dan idealisme sebagai ‘anak bangsa’. Warga Negara yang akan selalu menjaga harga diri dan keutuhan NKRI.
Beberapa bulan lalu geger di tingkat elite yang menyeret-nyeret kewibawaan presiden sebagai pemimpin bangsa -‘icon’ masyarakat Indonesia- menunjukkan lunturnya nilai-nilai patriotisme yang terdapat pada sebagian para pemimpin, yang mengatasnamakan sebagai tokoh mewakili rakyat.
Di tingkat elite pengalaman bernegara dan ketokohan sebagai ‘rakyat terhormat’ tidak mampu untuk menahan diri dan berpihak pada falsafah mikul dhuwur mendem jero. Nafsu untuk memuaskan diri sendiri telah mengalahkan nilai patriotisme yang pasti ada di setiap sanubari seorang yang pernah menjadi wakil rakyat yang terhormat.
Di Negara Indonesia saat ini menumpuk beban tugas wakil rakyat dan penyelenggara Negara yang harus diselesaikan segera. Kemiskinan, pengangguran, kebodohan dan maraknya korupsi di Indonesia adalah pekerjaan bersama yang sangat lebih mendesak dari pada berbicara tentang rahasia dapur pemimpin, masa lalu pejabat yang tidak memiliki dampak pada perubahan nasib ekonomi rakyat ke arah yang lebih baik. Jangan berteriak Merdeka bila saudara kita di desa dan di kolong jembatan belum aman dari kelaparan. Dan itu tanggungjawab seluruh elemen, juga diantaranya para urban yang beruntung sukses.
Minggu, 23 September 2007
Langganan:
Postingan (Atom)